Home Entertainment BERITA MALANG POPULER Hari Ini, Kisah Pria 2 Istri di Malang &...

BERITA MALANG POPULER Hari Ini, Kisah Pria 2 Istri di Malang & Demo Mahasiswa Tolak Revisi UU KPK


Berita Malang populer hari ini salah satunya soal kisah rumit pria 2 istri di Malang.

Selain itu berita Malang populer juga menyangkut demo mahasiswa Universitas Widyagama menolak Revisi UU KPK

Selengkapnya langsung saja simak berita Malang populer hari ini di SURYAMALANG.COM.

1. Kisah Pria 2 Istri di Malang

Tanpa sepengetahuan istri sahnya, pria berinisial KC menikah dengan wanita berinisial SW secara siri.

Pasangan asal Kabupaten Malang ini menikah secara siri di Pasuruan.

Meskipun berusaha ditutupi, istri sah KC berinisial EW tahu pernikahan siri tersebut.

SW pun mengadukan dugaan penyebaran foto tanpa busananya ke Polres Malang, Selasa (10/9/2019).

“Klien kami (SW) mengadukan KC terkait dugaan penyebaran foto tanpa busana klien kami,” ujar Dahri Abd Salam, kuasa hukum SW kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (11/9/2019).

Kasus ini bermula saat KC mengenal SW pada Maret 2018.

Sejak perkenalan itu, hubungan SW dan KC semakin akrab.

KC pernah mengajak SW berhubungan badan di kamar hotel di Surabaya.

Bahkan KC sering mengajak SW untuk ikut kunjungan kerja (kunker) anggota DPRD Kabupaten Malang.

KC tercatat sebagai anggota DPRD Kabupaten Malang periode 2014-2019.

Akhirnya pasangan ini menikah secara siri di hadapan ustaz di Pasuruan.

Setelah menjadi pasangan suami istri (pasutri) siri, SW minta pertimbangan kepada KC untuk meminjam uang di bank.

SW ingin membuka usaha bisnis pasir. Rencananya uang pinjaman itu menjadi modal usaha bisnis pasirnya.

“Namun KC menolaknya. Bahkan KC malah memberi uang Rp 100 juta kepada SW untuk modal dan sumber pemasukan sehari-hari.”

“SW sempat menolak. Tetapi SW dipaksa menerima,” ujar Dahri.

Beberapa waktu kemudian, KC memberi uang lagi kepada SW sebesar Rp 90 juta dan Rp 5 juta.

Padahal sebelumnya SW tidak pernah minta uang itu.

KC beralasan uang itu untuk tambahan modal usaha.

Uang tersebut bukan pinjam, tetapi diberi untuk tambah modal usaha.

Masalah mencuat setelah pernikahan siri KC dan SW terungkap.

Lalu EW selaku istri sah KC mendatangi SW dan minta SW untuk menjauhi KC.

EW juga mengirim foto tanpa busana SW di kamar hotel yang diambil dari ponsel milik KC.

“Klien kami tidak tahu sama sekali ketika difoto. Begitu tahu, dia sudah minta KC untuk menghapusnya. Tetapi KC tidak menghapus,” ungkap Dahri.

Ketika KC mengajak bertemu, SW selalu menolak.

SW menolak karena sudah berjanji kepada EW untuk tidak menemui KC lagi.

“Klien kami tetap menolak bertemu meskipun dijanjikan diajak menikah secara resmi. Bahkan itu disaksikan pihak keluaga, dan dianjikan akan diajak umroh,” terang Dahri.

Dahri menambahkan SW tidak terima karena dituduh melakukan penipuan atau penggelapan.

“Tak benar bila klien kami diduga melakukan tindakan penipuan atau penggelapan seperti yang disangkakan KC.”

“Juga tidak benar klien kami memiliki kewajiban untuk mengembalikan pembayaran sejumlah uang untuk bisnis pasir secara rekapitulasi sebesar Rp 200 juta seperti yang disangkakan KC,” jelas Dahri.

Dahri mengatakan SW merasa dirugikan apalagi dengan pengiriman foto tanpa busana oleh EW.

Karena merasa tidak pernah melakukan penipuan inilah SW mengadukan KC ke polisi.

Bahkan SW juga berkirim surat ke kantor DPC partai yang mengusung KC menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang.

“Kami kirim surat ke ​pimpinan DPC partai itu agar mengambil sikap tegas dengan merekomendasikan pemberhentian terhadap KC,” beber Dahri.

Sampai berita ini dimuat SURYAMALANG.COM belum bisa mengonfirmasi KC.

SURYAMALANG.COM tidak menemukan KC di DPRD Kabupaten Malang.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda menjelaskan pihaknya masih mempelajari pengaduan tersebut.

“Kami sudah menerima pengaduan itu. Sekarang kami sedang mempelajari perkaranya,” ujar Adrian.

2. Demo Mahasiswa Tolak Revisi UU KPK

Puluhan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widyagama unjuk rasa menolak revisi UU 30/2002 tentang KPK di depan Balai Kota Malang, Kamis (12/9/2019).

Demonstran menilai revisi UU KPK dapat melemahkan KPK sebagai institusi pemberantasan korupsi.

Demonstran membawa beberapa poster bertulis ‘Rest In Peace KPK’, ‘Revisi UU KPK Membunuh KPK’, ‘KPK Tidak Lagi Independen’, dan yang sebagainya.

Ada tiga poin yang disampaikan para mahasiswa, di antaranya mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menolak revisi UU KPK, mengembalikan independensi KPK dan mengusut calon pimpinan KPK yang bermasalah.

“Kalau revisi UU ini disetujui, akan banyak keresahan di masyarakat.”

“Karena dalam debat Pilpres lalu, presiden bilang akan memperkuat KPK,” ucap Adithya Tri Firmansyah, koordinator aksi kepada SURYAMALANG.COM.

Tuntutan lain yang disuarakan mahasiswa ialah pembentukan dewan pengawas yang memegang izin dalam penyadapan, penyitaan dan penggeledahan.

Kata Adhitya, pembentukan dewan pengawas ini akan memperlambat pemberantasn korupsi.

Apabila KPK akan melakukan penyadapan harus izin dewan pengawas terlebih dahulu.

“Kualifikasi dewan pengawas ini dipertanyakan, sebab persyaratannya dinilai lebih rendah dibanding pimpinan KPK,” ujarnya.

Adhitya bersama puluhan mahasiswa berharap aksinya bisa menimbulkan reaksi dan juga win solusi.

Dia tidak ingin KPK dilemahkan, karena KPK adalah amanah reformasi dalam upaya melawan korupsi.

“Korupsi di Indonesia ini sudah mengakar dan melemahkan sendi-sendi demokrasi.”

“Dan ini butuh penanganan yang masif, bukan malah diperlemah,” ujarnya.

Setelah itu, enam perwakilan dari mahasiswa tersebut langsung melakukan dialog dengan Ketua sementara DPRD Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika.

Usai menampung mahasiswa tersebut, Made akan menyampaikan aspirasi mereka ke pusat melalui masing-masing partai yang ada di DPRD Kota Malang.

“Di DPRD Kota Malang ada 10 partai, 8 partai memiliki perwakilan di DPR RI.”

“Nanti perwakilan parpol akan langsung bersurat ke pimpinannya untuk segera dijadikan masukan.”

“Bahwa ini adalah tuntutan aspirasi dari masyarakat Kota Malang yang disampaikan melalui sejumlah mahasiswa,” tandasnya.

3. Analisis BMKG Malang Soal Gempa di Jawa Timur

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas III Karangkates, Kabupaten Malang mencatat ada kenaikan jumlah gempa dari bulan Juli ke Agustus di Jawa Timur.

Trennya naik dari hanya total 45 gempa bumi berbagai skala di bulan Juli naik drastis menjadi 80 total gempa.

“80 itu ya gempa skala kecil juga, yang dirasakan mungkin hanya 5 kali. Tapi naiknya ini sudah 100 persen,” beber Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Klas III Karangkates – Malang, Musripan ketika dikonfirmasi, Kamis (12/9/2019).

Musripan menambahkan, jumlah ini didapat BMKG dari total gempa yang terjadi di wilayah Jawa Timur

Di sisi lain, ritme akitivitas gempa di Indonesia alami mengalami penurunan.

Berdasarkan paparan dari Musripan, selama bulan Agustus, gempa lebih sedikit jika dibanding Juni dan Juli 2019. Jika Agustus 673 kali, Juni dan Juli hanya sebanyak 735 dan 841 kali.

“Banyak juga di darat. Pengingkatannya cukup signifikan. Kayak kemarin gempa Madiun tidak sampai 5 hari itu total gempanya sudah sampai 18 kali, tapi yang terasa cuma sedikit,” jelas Musripan. (ew)

SURYAMALANG.COM