Home Entertainment BERITA SURABAYA Hari Ini Populer: Fakta Terungkap Seputar Perawat Hamil Meninggal Karena...

BERITA SURABAYA Hari Ini Populer: Fakta Terungkap Seputar Perawat Hamil Meninggal Karena COVID-19

SURYA.CO.ID – Simak berita Surabaya hari ini poper Rabu (20/5/2020), di antaranya Profil perawat RS Royal yang meninggal karena COVID-19 bersama bayi yang dikandungnya.

Sejumlah fakta baru terungkap, termasuk kabar Hoax suaminya yang juga meninggal karena Virus Corona.

Kemudian berita penjelasan kenapa wanita hamil rentan terinfeksi Virus Corona, serta ucapan belasungkawa untuk Ari Pustpitasari dari Presiden Jokowi.

Berikut selengkapnya berita Surabaya populer hari ini, Rabu (20/5/2020).


1. Profil Perawat RS Royal Surabaya Hamil 4 Bulan Meninggal Positif Covid-19

Profil perawat RS Royal Surabaya Ari Puspitasari yang meninggal dunia setelah terinfeksi virus corona covid-19 terungkap.

Perawat RS Royal Surabaya ini meninggal dalam kondisi hamil 4 bulan.

Ari Puspitasari meninggal setelah dirujuk ke RSAL dr Ramelan setelah beberapa hari sebelumnya dirawat di RS Royal Surabaya.

Juru bicara penanganan Covid-19 RS Royal dr Dewa Nyoman Sutanaya mengatakan, nakes tersebut menghebuskan nafas terakhir di RSAL pada pukul 10.50 WIB.

“Iya, tadi dapat informasi meninggal sekitar pukul 10.50. Kita perwakilan RS Royal sudah ke RSAL,” ucap dia, Senin (18/5/2020).

Ari dimakamkan pihak RSAL sesuai protokol covid-19.

Berikut profil perawat RS Royal Surabaya dan fakta-fakta terbaru:

1. Datang sudah kritis

Humas RSAL dr Ramelan Surabaya, drg Aldiah Humas RSAL menerangkan hasil tes Swab PCR yang dilakukan RS Royal menunjukkan bahwa Ari positif terinfeksi virus corona.

“Pas tanggal 15 masuk RSAL. Hasil swab diambil di RS Royal kan jadi sudah bisa diketahui hasilnya positif,” ucap dia.

Namun Aldiah mengaku tidak mengetahui pasti kapan hasil tersebut keluar. Aldiah memdiprediksi, tes Swab PCR biasanya 4-5 hari setelah pengecekan.

“Aku nggak tahu kapan keluarnya (hasil swab) tapi dirawat di RS Royal sejak 8 Mei. Kalau Swab itu kan pemeriksaan keluar 4-6 hari berarti kan bisa jadi sebelum masuk RSAL sudah keluar hasil positif itu,” terang dia.

Di kesempatan itu, Aldiah menceritakan kondisi Ari saat pertama kali datang ke RSAL.

Menurut pengamatannya, Ari datang sudah dalam keadaan kritis.

“Sudah pakai inkubasi saat datang. Masuk RSAL sudah masuk ruangan khusus ICU Covid-19. Jadi di RSAL itu nggak masuk ruang biasa tapi sudah masuk ruang ICU Covid,” ungkap dia.

2. Masih muda, baru 2 tahun bekerja

Pihak RS Royal Surabaya menjelaskan lebih detail profil tenaga medis yang telah meninggal dunia di RSAL pada Senin (18/5/2020).

Informasinya, Ari Puspita Sari merupakan warga Surabaya dan menghebuskan nafas terakhir saat menginjak usia 26 tahun.

Juru bicara penanganan Covid-19 RS Royal dr Dewa Nyoman Sutanaya mengatakan, Ari sudah dua tahun tergabung menjadi tenaga medis.

“Perawat baru, kurang lebih dua tahun. Yang jelas dia tenaga baru,” kata dia saat ditemui di RS Royal, Senin (18/5/2020).

3. Tak miliki penyakit kronis

Sementara saat disinggung riwayat kesehatan Ari, Dewa memastikan perawat tersebut tidak memiliki laporan adanya penyakit kronis.

“Sejauh ini saya nggak ada informasi itu. Yang kami tahu dia sedang hamil. Tapi secara keilmuan memang orang hamil lebih rentan (terpapar Corona). Karena hamil, selama bekerja sudah ada protokol dia tidak merawat pasien di ruang isolasi,” pungkas Dewa.

Pendapat ini dibenarkan Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, Joni Wahyuhadi.

Joni menjelaskan, orang hamil memang termasuk dalam kategori yang rentan ketika terjangkit COVID-19 karena imunitas dan metabolisme yang berubah.

“Jantung, Diabetes, TBC, ketuaan, orang hamil itu betul-betul harus dijaga. Imunitas orang yang sedang hamil itu berubah. Respons terhadap virus dan penyakit juga berubah,” ujar Joni.

Sebab itulah, Joni menekankan pentingnya masyarakat untuk memahami tujuan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk tetap menjaga physical distancing, memakai masker, dan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 lainnya.

“Seperti orang dengan diabetes kemungkinan mortalitas akibat Covid-19 itu 1,6 kali lebih besar dari orang normal. Jantung lebih besar lagi. Termasuk orang lansia, risikonya 2,51 kali lebih besar,” ucapnya.

4. Hoax suami meninggal dunia

Setelah meninggalnya Ari ramai kabar di media sosial bahwa sang suami juga tutup usia.

Bahkan di grup WhatsApp tersebar sebuah tangkapan layar yang berisi pesan singkat, suami Ari meninggal di ruang ICU Rumah Sakit Angkatan Laut (RUMKITAL) Dr. Ramelan Surabaya atau yang biasa disebut RSAL.

Terkait hal itu, drg Aldiah Humas RSAL mengklarifikasi, bahwa kabar itu salah.

“Enggak meninggal hoax (berita bohong). Tadi itu pukul 13.30, dia (suami Ari) masih mendampngi waktu jenazah dimakaman di TPU Keputih,” kata Aldiah saat dihubungi, Senin (18/5/2020).

Sementara saat ditanya kondisi suami Ari sekarang, Aldiah pun tidak bisa memberikan keterangan.

“Belum tahu karena bukan pasien RSAL.

Kalaupun harus dites kan harus lewat tahap rapid dulu,” pungkas dia.

5. Pemprov Jatim Ucapkan Duka

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, kejadian meninggalnya perawat tersebut menjadi motivasi bagi pemerintah untuk terus memperbaiki sistem pelayanan kesehatan.

“Tentu, setiap hal seperti ini akan menjadi ruang untuk melakukan pembenahan terkait sistem yang ada,” ujar Emil, Senin (18/5/2020).

Dalam kesempatan itu Emil juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya perawat tersebut.

“Kami berduka, kita dengar ada perawat yang meninggal dunia. Atas nama Pemprov Jatim, kami sampaikan duka cita mendalam,” ucap Mantan Bupati Trenggalek ini.

Sebelumnya, sebuah video yang merekam detik-detik perawat ini didorong oleh 7 rekannya menggunakan alat pelindung diri (APD) keluar dari sebuah ruangan viral di media sosial.

Perawat ini terbaring di bed pasien menggunakan alat bantu pernafasan (ventilator).

Saat diamati, video berdurasi 52 menit itu seolah menceritakan, perawat tersebut akan dipindahkan ke ruangan khusus untuk dapat penanganan yang lebih maksimal.

Saat perawat itu hendak memasuki lift, beberapa kawan kerjanya menyebut nama nakes itu berulang kali sambil menangis.

“Ya Allah ari, ari, ari ari,” kata perekam sambil menangis.

Ketika perawat bernama Ari masuk ke lift, sudah ada banyak nakes melihatnya sambil menangis.

Bahkan, didurasi ke 47 detik terdapat satu nakes memakai baju hijau menangis sampai tubuhnya terjatuh lemas.

Adapun nakes lain yang menopang nakes berbaju hijau yang menangis. Mereka juga terlihat menangis bersama sambil mengusap air matanya dengan tisu.

2. Penyebab Wanita Hamil Rentan Terpapar COVID-19

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jawa Timur, Joni Wahyuhadi menjelaskan, orang hamil termasuk dalam kategori yang rentan terjangkit COVID-19.

Hal itu disebabkan karena imunitas dan metabolisme yang berubah.

“Jantung, Diabetes, TBC, ketuaan, orang hamil itu betul-betul harus dijaga.

Imunitas orang yang sedang hamil itu berubah. Respons terhadap virus dan penyakit juga berubah,” ujar Joni.

Sebab itulah, Joni menekankan pentingnya masyarakat untuk memahami tujuan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk tetap menjaga physical distancing, memakai masker, dan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 lainnya.

“Seperti orang dengan diabetes kemungkinan mortalitas akibat Covid-19 itu 1,6 kali lebih besar dari orang normal. Jantung lebih besar lagi. Termasuk orang lansia, risikonya 2,51 kali lebih besar,” ucapnya.

Belasungkawa dari Wagub Jatim Emil Dardak

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, kejadian meninggalnya perawat tersebut menjadi motivasi bagi pemerintah untuk terus memperbaiki sistem pelayanan kesehatan.

“Tentu, setiap hal seperti ini akan menjadi ruang untuk melakukan pembenahan terkait sistem yang ada,” ujar Emil, Senin (18/5/2020).

Dalam kesempatan itu Emil juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya perawat tersebut.

“Kami berduka, kita dengar ada perawat yang meninggal dunia. Atas nama Pemprov Jatim, kami sampaikan duka cita mendalam,” ucap Mantan Bupati Trenggalek ini.

Insya Allah syahid

Ari Puspitasari dan janinnya yang meninggal dunia karena positif Virus Corona atau COVID-19, didoakan syahid.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengucapkan duka cita mendalam dan berterima kasih atas pengabdian serta pengorbanan almarhumah Ari Puspita Sari atau ada yang menulis Ari Puspitasari.

“Doa terbaik dari kami, semoga almarhumah dan janin yang dikandungnya syahid dan diganjar oleh Allah SWT dengan surga. Pun semoga Allah memberikan ketabahan dan keikhlasan bagi keluarga besar yang ditinggalkan,” kata Khofifah, Senin (18/05/2020).

Duka mendalam juga disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.

“Terkait perawat yang meninggal dunia pagi ini (kemarin), atas nama Pemprov Jatim kami menyampaikan duka cita yang mendalam, dan ini akan jadi ruang kita untuk melakukan pembenahan terkait sistem yang ada,” tegas Emil.

Presiden Joko Widodo juga menyampaikan duka cita

“Saya mendengar kabar duka tentang berpulangnya Ibu Ari Puspita Sari, seorang perawat di Rumah Sakit Royal Surabaya bersama janin yang dikandungnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” tulis Jokowi di akun facebook resminya, Selasa (19/5/2020).

Presiden Jokowi mengaku sungguh-sungguh berduka cita yang mendalam untuk kepergian Ari.

Ungkapan duka cita yang sama juga diberikan kepada para dokter dan tenaga medis lain, serta orang-orang yang berada di garis terdepan penanganan pandemi Covid-19 yang meninggal dunia.

“Semoga mereka semua mendapatkan pahala yang setimpal di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi-Nya kekuatan dan kesabaran,” kata Presiden Jokowi.

Ari Puspita Sari yang hamil 4 bulan meninggal dunia, Senin (18/5/2020), bersama janin di rahimnya setelah dinyatakan positif Virus Corona atau Covid-19.

Almarhumah meninggal dunia di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr Ramelan Surabaya setelah menjalani perawatan intensif di ruang khusus pasien Covid-19.

Ari Puspita diduga tertular Covid-19 saat menjalankan tugas sehari-sehari sebagai perawat di RS Royal.

Juru bicara penanganan Covid-19 RS Royal Surabaya dr Dewa Nyoman Sutanaya mengatakan, Ari

Puspita Sari sudah bekerja sebagai perawat dalam dua tahun terakhir.

Sebelum terular Covid-19, Ari dipastikan tidak memiliki penyakit penyerta yang kronis.

“Sejauh ini tidak ada informasi itu (punya penyakit kronis). Yang kami tahu dia sedang hamil. Secara keilmuan memang orang hamil lebih rentan (terpapar Corona),” katanya.

Dewa menegaskan manajemen RS Royal sebenarnya sudah menjalankan protokal kesehatan bagi Ari yang hamil, yakni selama bekerja tidak merawat pasien di ruang isolasi.

Namun penularan Covid-19, menurutnya, sangat mungkin terjadi karena pasien yang dirawat tidak jujur kepada tim medis tentang riwayat penyakitnya.

“Sudah ada nakes (tenaga kesehatan) terpapar. Kami minta pasien bisa lebih jujur pada kami karena informasi yang tidak terbuka bisa berbuah celaka,” ucap dia.

Dewa pun menceritakan kronologi kejadian meninggalnya Ari. Menurutnya Ari menghebuskan nafas terakhir di RSAL pada Senin kemarin pukul 10.50 WIB.

Sebelumnya Ari selama tiga hari menjalani perawatan di RS Royal. Setelah kondisinya memburuk dirujuk ke RSAL Dr Ramelan.

Dua hari menjalani perawatan, Ari mengembuskan napas terakhir.

“Yang memakamkan pihak RSAL di TPU Keputih karena protokolnya begitu. Kami mendampingi saja, melihat dari jauh,” imbuh Dewa.

Humas RSAL Surabaya drg Aldiah membenarkan bahwa dari hasil tes swab PCR yang dilakukan RS Royal terhadap Ari Puspitasari menunjukkan bahwa ia positif terinfeksi Virus Corona.

“Tanggal 15 (Mei) masuk RSAL. Hasil swab diambil di RS Royal, diketahui hasilnya positif,” kata Aldiah.

“Kami nggak tahu kapan keluarnya (hasil swab) tapi dirawat di RS Royal sejak 8 Mei. Hasil swab itu biasanya keluar 4-6 hari setelah tes,” terang dia.

Aldiah menceritakan kondisi Ari saat pertama kali datang ke RSAL.

Menurut pengamatannya, Ari datang sudah dalam kondisi kritis.

“Sudah pakai inkubator saat datang. Masuk RSAL sudah masuk ruangan khusus ICU Covid-19. Jadi di RSAL itu nggak masuk ruang biasa tapi sudah masuk ruang ICU Covid,” jelasnya.

Di sisi lain, Aldiah membantah kabar viral yang menyebut bahwa suami Ari Puspitasari juga meninggal dunia karena terinveksi Covid-19.

“Enggak meninggal, itu hoax (berita bohong). Tadi itu pukul 13.30, dia (suami Ari) masih mendampngi waktu jenazah almarhum dimakaman di TPU Keputih,” tegas Aldiah.

93 Anggota tim medis tertular

Ketua Tim Tracing Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim Kohar Hari Santoso menyatakan berdasarkan data yang dimiliki Gugus Tugas Tim Kuratif, sejauh ini di Jawa Timur ada sebanyak 93 tenaga kesehatan yang terinfeksi Covid-19.

Atau sekitar 5 persen dari jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur adalah tenaga kesehatan.

“Dari jumlah itu ada dari apoteker 2 orang, dari bidan 2 orang, dokter 31 orang, laborat sebanyak 2 orang, perawat sebanyak 42 orang dan petugas surveillance 5 orang dan nakes lainnya ada 9 orang,” tutur Kohar.

Dari jumlah tenaga kesehatan Jatim yang terpapar Covid-19 itu yang meninggal dunia ada tiga orang yaitu dua orang dokter dan satu orang perawat.

“Dari data kami untuk nakes yang terpapar Covid-19 yang sembuh 50 persen, yang masih dirawat 47 persen, dan yang meninggal 3 persen,” ucap Kohar.

Pihak Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri sudah berupaya membekali tenaga kesehatan untuk alat perlindungan diri (APD) yang layak, dan juga pembekalan yang baik pada tenaga kesehatan. (Tony Hermawan/Sofyan Arif Candra Fatimatuz Zahroh/Pipit Maulidiya)